Rabu, 10 November 2010
mbah maridjan

Saya tidak tau harus menangis karena kehilangan atau menangis karena harus membiarkannya pergi. Tapi dia menatapku seperti menyesal sudah mengambil keputusan itu. Akhirnya dengan terpaksa Saya pun harus merelakan kepergiannya, walau benar hati ini masih menyayanginga, walaupun benar hati ini masih sangat ingin selalu bersamanya. Untuk Mbah Marijan, semoga amal ibadahmu diterima dan mendapat tempat disisiNya.
gelar
“hai kambing!”
dari pada
“hai sayang!”
dari pada
“hai sayang!”
Kalimat tersebut mengingatkan kepada saya tentang seorang perempuan yang sekitar dua tahun lalu hadir seolah bidadari begitu cantik bagi saya. Karena memiliki kebiasaan yang jarang mandi maka sebutan kambing berhasil saya sematkan merupakan gelar kehormatan baginya. Perempuan itu pun tak kalah dan merasa kalah begitu saja, akhirnya sebutan sapi yang dilontarkannya berhasil saya sandang dengan bangga. Entah sebenarnya saya pun merasa agak aneh, tapi tak dapat saya pungkiri gelar itu hingga kini tetap saya sandang dengan bangga.
sukses itu indah

Kesuksesan itu bisa berada di bawah bukit atau di atas gunung. Apabila di bawah bukit kita akan dg mudah dapat meraihnya tetapi akan kesulitan saat membawanya kembali. Apabila di atas gunung kita akan kesulitan untuk mengambilnya tetapi akan sangat mudah untuk membawanya kembali pulang. Oleh Heru siswanto
hati

Aku yg slalu tersingkir, tak ada yg mau mengerti aku. Setiap hri yg trsisa hnya lamunan dan malam yg bgitu sepi slalu dikelilingi mimpi, jadikan aku lupa akan arti hidup ini. Terkadang aku bingung, lelah seperti tanpa jiwa. Orang mngatakan 'Keindahan' itu terukir dr dlm hati, krena hati tdk prnah bohong. Padahal hati tdk bisa melihat seperti mata, hati tdk bisa merasa seperti lidah, hati tdk bisa meraba seperti tangan-tangan dan hati tdk bisa brkata-kata, hati tdk bisa mendengar seperti telinga. Hati tdk bisa apa-apa. Hati hanya bisa diam. Hati hanya bisa menyaksikan. Hati hanya bisa menyadari. Kalau hati adalah seperti debu yg tertiup angin terbang kemana arah hembusan,maka hati adalah tdk jauh dari udara. Hati jg bukan pasir, hati adalah segumpal darah. Sekarang hati yg ada di dalam tubuh ini. Mengapa semua orang berdiri seperti mengenalku. Ini hati? Benarkah ia berkata? Oh tidak! harusnya kubuang jauh dan tak pernah ada perdebatan ini.
setetes embun

Membalut embun dengan senyum sebelum mentari muncul merebut seraut wajah indah itu. Pagi datang hanya sebentar seperti ia tau bahwa tak pernah ada yang suka akan kehadirannya. Walau begitu pagi tetap muncul, sebab ternyata masih ada yang selalu setia menunggu kedatangannya. Ya, dialah setetes embun yang sungguh begitu suci, sifat apa adanya tak pernah mengeluh sebagai cermin seraut wajah indah itu. Berbeda dengan malam, malam begitu dinanti, malam begitu disuka dan pabila malamkan pergi semua begitu berat melepasnya, sebab disetiap kepergiannya malam selalu menyimpan sejuta mimpi. Malam begitu cerdik, dia buat semua seperti kehilangan saat dia pergi sehingga yang setia kepadanya selalu berat melepas kepergiannya.
sebuah jepit
Senang bisa mengenalmu kembali, masih ingat pagi itu di gerbang sekolah saat malu-malu menunduk dan tersenyum seperti terpaksa beranikan diri untuk memandang. "wew cantik sekali dengan sebuah jepit yang mungil dirambutmu..." Yah itu adalah saat pertama kali aku sadar bahwa aku punya hati untukmu. Sekarang kamu masih cantik...
-bersambung-
nenek bawel

Nenek bawel adalah sebuah sebutan untuk seorang perempuan yang tidak tau mengapa kata itu menurut saya pantas dan cocok sekali saya berikan kepadanya. Memang agaknya sedikit aneh kalau dibilang bahkan mungkin perempuan itu-pun akan marah jika tau sebutan itu saya anggap sungguh istimewa baginya. Saya sedikit tersenyum sebenarnya ketika memberikan sebutan itu untuknya, kok bisa perempuan secantik itu mendapat sebutan seperti itu? Ada apa dengan perempuan secantik itu? Bukankah dia sungguh istimewa? Apakah tidak ada sebutan sebuah kata yang mewakili segala keistimewaannya yang lebih pantas untuknya? Sejenak saya merenung, sebenarnya ini salah siapa, seolah seperti ada pertengkaran batin. Saya kembali tersenyum, terdiam sejenak.
Nafas ini masih seirama dengan detak jantungku, aku dapat merasakan ini malam tidak seperti beberapa malam-malam yang lalu, saat aku menikmati malam waktu itu tidak ada sesuatu yang mampu mengusik konsentrasiku dalam mencumbu malam. Memang benar harus ku akui diam-diam aku suka bercinta dengan malam, biasanya kulakukan ketika duduk dengan kaki dikedua sisi saat gumpalan-gumpalan kapas dikegelapan yang seolah melarang sang rembulan untuk hadir. Tapi malam kali ini, entah mengapa sebuah kata itu hadir, seperti kata keramat yang mampu mengingatkanku kepada seraut wajah perempuan cantik itu.
“bawel” hampir separuh malamku habis untuk memaknai kata keramat itu, sesekali wajahnya melintas. Kali ini gumpalan-gumpalan kapas dikegelapan seperti tau situasi yang sedang terjadi disini, sehingga sang rembulan dibiarkan hadir dengan wajah seperti saat pertama kali aku mengaguminya. Mungkin gumpalan kapas itu tidak ingin peranannya tergantikan oleh wajah baru seorang perempuan yang tiba-tiba datang dengan mudahnya mengacaukan hampir separuh malam yang biasa aku habiskan bersamanya. Namun gumpalan kapas di kegelapan harus sadar, seperti kata hatiku, sang Rembulan saja lebih memilih diam menyaksikan dari persinggahannya, daripada menantangku. Ini jaman sudah berbeda bung! Pabila engkau ingin tetap ada, tetap mendapat tempat ditempat yang kusediakan untukku, maka janganlah engkau berulah. Kukatakan kepadanya : “wahai gumpalan-gumpalan kapas dikegelapan, tetaplah engkau jalani kodratmu seperi sang Rembulan, persoalan sekarang perhatianku sudah mulai terbagi dengan perempuan itu, janganlah engkau sok merasa iri. Maknai kodratmu. Perananmu tidak akan berubah, perkara aku pernah bercumbu dengan malam anggap saja itu adalah suatu kekhilafan. Sekarang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, jalani saja apa adanya biarkan mengalir seperti waktu yang kian hari kian menambah ketuannmu”.
Pasar seni pada sabtu depan pasti akan sangat menarik, suasananya dapat kurasakan. “nenek bawel” tiba-tiba saja datang seperti ingin membuat perhitungan dengan-ku. Wajahnya begitu menakutkan, saya tak dapat membedakan antara yang sedang tersenyum atau marah. Berteriak-teriak menuju ke arahku tetapi tak menyebut namaku, menggedor pintu hatiku. Langsung saja kukunci pintu itu sebelum perempuan itu berhasil merebut pandanganku. Oh! Begitu menakutkan, kenapa seorang perempuan cantik itu tiba-tiba berubah menjadi aneh dan konyol seperti itu? Aku tak boleh menatapnya, jangan sampai raut wajah terakhirnya datang menyita sebagian malam yang biasa kunikmati. Aku tak ingin kembali mengecewakan sang Rembulan dan gumpalan-gumpalan kapas dikegelapan yang lebih setia menjadi teman malamku.
(bersambung...)
Langganan:
Postingan (Atom)
